Senin, 20 Februari 2012
Dahlan Iskan Merintis Jawa Pos
Oleh: MAX WANGKAR
Sumber: PANTAU, edisi Mei 2001
JUMAT, 24 Februari 2001. Pukul enam pagi, saya duduk di ruang tunggu terminal F Bandar Udara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sambil menunggu instruksi naik pesawat Lion Air tujuan Pontianak pukul 06.30, saya memejamkan mata sambil menikmati sisa-sisa kantuk yang belum hilang. Tiba-tiba saya terkejut ketika lutut kanan, yang saya silangkan di atas kaki kiri, terasa disentil-sentil orang. Siapa yang iseng sepagi ini? Ternyata Dahlan Iskan, chief executive officer Jawa Pos News Network.
Kehadiran raja koran ini membuat saya bingung lantaran sehari sebelumnya kami sepakat akan bertemu di Pontianak. Saya akan terbang dengan Lion Air sedangkan Dahlan dengan Garuda.
"Lho, Dahlan! Anda di sini? Apakah tidak jadi terbang ke Pontianak?" tanya saya.
"Jadi. Mari ke sini sebentar!" ujarnya sambil mencari kursi kosong menjauhi banyak orang.
"Anda tukar pesawat dan jadi terbang bersama saya?" tanya saya, sambil berharap begitu.
"Tidak," jawabnya. Saya bingung. Mau apa dia?
Ia berpenampilan menurut kebiasaannya yang urakan: berkemeja lengan panjang yang gombrang tanpa memasukkan ujung bawahnya ke dalam celana sebagaimana pantasnya. Pagi itu Dahlan bercelana panjang biru tua, kontras dengan sepatu kets putih. Sebuah jaket tipis sutera kelabu membungkus sebagian kemejanya.
Pria ini bermata besar yang sering membelalak di balik kacamatanya. Ia berbadan sedang. Di punggungnya tersandang tas model anak sekolah berlogo Jawa Pos. Tas kain itu tidak gendut layaknya bawaan orang yang sedang bepergian tanpa bagasi jinjing. Tas itu malah kempes ketika ditaruh di atas bangku. Dahlan membawa baju ganti cuma sepasang, baju olahraga (training).
Ia merogoh dasar tasnya, dan dari balik training itu dikeluarkannya sebuah buku. Saya sangka ia mau membaca buku sambil menunggu instruksi boarding, eh, ternyata buku itu diserahkannya kepada saya. Buku seperti novel pop itu berjudul Jawa Pos Koran Kita. "Ini buat baca-baca sambil terbang. Kita ketemu di Pontianak, ya? Wah, pesawat Anda lebih bagus!" ujarnya. Ia melongok ke arah pesawat Lion Air yang tampak kerdil di tempat mangkalnya pesawat-pesawat Garuda.
Baru saya membolak-balik buku pemberiannya, Dahlan sudah menghilang begitu saja. Saya mencarinya. Pasti ia bergegas ke ruang tunggu pesawat. Dalam hati kecil saya bangga juga. Rupanya, orang kaya dari Surabaya itu datang mencari saya sekadar menyerahkan buku di saat-saat mepet. Betapa rendah hatinya raja koran itu. Koran-koran Dahlan disebut Jawa Pos News Network karena semua komputer redaksinya terhubung satu sama lain.
Semua berita, feature, artikel, atau foto, baik liputan wartawan dan fotografer sendiri, maupun yang dibeli dari pihak ketiga, dimasukkan dalam bank data yang bisa diakses lewat komputer redaksi koran anggota Jawa Pos News Network. Dengan demikian, laporan serta foto-foto kerusuhan di Palangkaraya, misalnya, yang diliput wartawan Palangkaraya Pos, bisa dibuka di kantor Jawa Pos di Surabaya, Radar Medan, harian Fajar Makasar, juga Radar Merauke Papua Barat. Begitu pun sebaliknya, liputan Jakarta dapat diakses oleh semua anak Jawa Pos di daerah.
Jumat 24 Februari 2001 ini, Dahlan Iskan hendak melakukan kunjungan kerja sehari ke Pontianak, esoknya kembali ke Surabaya. Saya pikir inilah kesempatan yang tepat untuk melihat bagaimana Dahlan berkiprah di anak perusahaan Jawa Pos di daerah. Selanjutnya bisa membuntutinya sampai ke jantung Jawa Pos di Graha Pena, gedung perkantoran berlantai 20 milik Jawa Pos di Surabaya. Setibanya di Pontianak, saya sekali lagi dibuatnya bingung. Pesawat saya tiba duluan, maka saya menunggunya di bandar udara sesuai kesepakatan.
Saya duduk di sebuah bangku yang tepat menghadap pintu tempat munculnya penumpang yang turun dari pesawat Garuda. Setelah setengah jam menunggu dan tidak melihat Dahlan, saya bertanya pada petugas pengecekan bagasi bandara, "Apakah penumpang Garuda dari Jakarta sudah mendarat?"
"Oh, sudah keluar semua," ujar petugas yang saya tanyai.
Tentu saja saya kaget. Saya lari ke sana ke mari mencari Dahlan di areal parkir. Seorang sopir taksi gelap bertanya siapa yang saya cari. Saya memberi gambaran sosok Dahlan. Dia bilang orang itu sudah pergi dengan mobil sedan. Saya lalu menelepon kantor perwakilan Jawa Pos di Pontianak. Sopir taksi gelap tadi benar. Lewat telepon saya mendapat informasi Dahlan sudah dalam perjalanan menuju ke sana. Saya pun mencarter taksi gelap tadi, sebuah van Mitsubishi L-300 ke kantor Akcaya, anak perusahaan Jawa Pos di Pontianak.
*****
KANTOR Akcaya merupakan gandengan dua rumah kantor berlantai tiga. Di lantai dasar, separuh menjadi gudang kertas koran, separuhnya lagi tempat percetakan pers. Lantai dua ruang administrasi, lantai tiga ruang redaksi. Interior kantor itu tampak sederhana. Saya naik ke lantai dua. Seorang wanita setengah baya menyambut saya, "Pak Dahlan sedang pergi dengan direksi (PT Akcaya)." Ia menyilakan saya masuk ruang rapat. Di sana hanya ada sebuah meja rapat berbentuk lonjong tapi tidak ada kursi satupun. Wanita tadi menarik sebuah kursi dari ruang kerja karyawan keuangan untuk saya.
Di tembok depan saya terpampang sebuah papan tulis besar tempat coretan angka-angka bisnis yang agaknya baru saja dibicarakan dan belum sempat dihapus. Ketika menerka-nerka apa makna angka-angka itu, muncullah seorang pria yang mengaku bernama Yusri, lengkapnya Gusti Yusri. Yusri mengajak saya menemui Dahlan dengan mobilnya yang diparkir di belakang gedung. Di halaman belakang ini, menurut Yusri, hendak dibangun sebuah gedung kantor Akcaya yang baru, beberapa tingkat.
Telepon genggam Yusri sebentar-sebentar berbunyi dan dari jawabannya tertangkap bahwa Dahlan sudah tak sabar menunggu saya. "Pak Dahlan memang punya kebiasaan (menghilang) seperti itu. Sering terjadi, sementara yang jemput mencari-cari di airport, tahu-tahu diberi tahu Bapak sudah tiba di kota," tutur Yusri.
Tadinya saya menyangka Yusri "hanyalah" seorang karyawan bagian umum PT Akcaya Utama Press. Pria kecil berusia 34 tahun asal Sanggau, yang tampak imut-imut itu, begitu rendah hati sehingga tidak mau menyatakan kalau ia seorang bos. Yusri adalah pemimpin redaksi Kapuas Pos -sebuah suratkabar yang baru diterbitkan di Pontianak, 3 Februari 2001.
Kapuas Pos diterbitkan PT Akcaya Utama Press khusus untuk menggarap pasar pedalaman Kalimantan Barat, seperti Sanggau yang membutuhkan waktu delapan jam perjalanan dengan kapal, dan Sintang yang masih harus ditambah 10 jam lagi dengan mobil dari Sanggau. Koran itu dicetak sore, pukul 18.00 agar bisa dipasarkan pada hari edar, besoknya, di Sanggau dan Sintang. Sebab, pengalaman sebelumnya, koran Pontianak Post yang dicetak pukul 02.00 dini hari, jika dipasarkan di kabupaten Sanggau sudah menjelang tengah hari, bahkan kemalaman untuk pemasaran di Sintang.
Dengan mobilnya, jip Daihatsu Taft, Yusri mengantar saya ke tempat Dahlan berada. Ia ternyata sarapan bersama direktur utama PT Akcaya Utama Press, Tabrani Hadi, dan manajer umum Perwakilan Jawa Pos di Pontianak yang juga menjabat direktur PT Akcaya Utama Press, Untung Sukarti. Mereka sarapan di sebuah restoran sederhana. Begitu saya tiba, mereka sudah selesai sarapan dan bersiap-siap naik sebuah sedan Timor yang memakai pelat bernomor polisi warna merah.
"Kok nomor pelatnya merah?" tanya saya.
"Iya, ini mobil dinas saya," ujar Tabrani.
Bos Akcaya ini ternyata juga menjabat kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Di sedan itu, Tabrani duduk di kursi kiri depan, Sukarti memegang kemudi, Dahlan di kursi kiri belakang dan menyuruh saya di samping kanannya. Saya lalu melupakan masalah kegagalan perjumpaan dengan Dahlan di airport.
Sambil bercerita awal karier Dahlan serta masuknya Jawa Pos ke PT Akcaya Utama Press, kami meluncur ke sebuah pabrik kertas yang terletak di pinggiran utara kota Pontianak, di jalan raya arah Singkawang. Dahlan rupanya berkunjung ke Pontianak khusus melihat sebuah pabrik kertas yang sudah setahun berhenti produksi dan ia berminat membelinya. Ada niat Dahlan untuk memperbesar pabrik kertas milik Jawa Pos di Gresik, PT Adiprima Suraprinta, yang bukan cuma memasok kebutuhan kertas bagi koran-koran Jawa Pos News Network, tapi juga sudah mendapatkan pasaran ekspor antara lain Malaysia, Taiwan, dan India.
Setiba di sasaran, Dahlan langsung naik turun, berkeliling, ke pabrik kertas tersebut. Pemeriksaan dilakukannya sampai detail seraya membuat catatan. Terakhir, ia ingin mengecek kolam limbah pabrik yang sudah dikelilingi semak belukar setinggi satu-dua meter. Sambil lari, Dahlan berupaya menerobos belukar.
"Awas, ular," teriak saya. Mendengar peringatan saya, Dahlan balik dan mencari jalan lain. Ia minta orang lain yang berani menghadapi ular untuk jalan terdepan. Sambil bicara keras-keras dan membuat kebisingan dengan harapan agar ular menyingkir, kami akhirnya naik ke tembok kolam pembersihan limbah pabrik kertas itu. Untunglah kami tidak menjumpai binatang berbahaya.
Pabrik kertas yang sudah setahun berhenti produksi itu ternyata mesinnya buatan tahun 1928. Cuma alat kontrolnya yang sudah modern. Kecepatan mesinnya 40 ton per hari. Itu terlalu lamban dibandingkan kecepatan mesin pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta yang tadinya 120, dan terakhir sudah dinaikkan menjadi 140. Pabrik ini terletak di atas lahan sekitar dua hektar sedangkan pabrik dan kolam limbahnya mungkin cuma seperempat dari lahan yang dipenuhi onak belukar itu.
"Yang punya pabrik ini, atau bank yang menguasai pabrik ini kalau kreditnya macet, pasti menghendaki penjualan seluruh asetnya. Lahan di sini terlalu besar, kita tidak perlu kebun. Yang kita butuhkan mungkin cuma mesinnya. Wah, nggak nyucuk, nggak bakal ketemu," kata Dahlan ketika kami sudah naik mobil lagi, hendak meluncur kembali ke kota Pontianak. Kendati begitu, Dahlan merasa tetap harus membuat laporan dan ingin ketemu dengan pemiliknya di Jakarta. Ia ternyata tak punya telepon genggam dan memang tidak mau punya. Namun, bos besar ini tidak sungkan meminjam telepon genggam milik anak buahnya. Ia meminjam telepon genggam Sukarti dan segera melaporkan semua data pabrik tadi kepada seorang pakar pabrik kertas di Jawa Timur.
"Mesin pabrik ini buatan Prancis tahun 1928, jadi dibuatnya sebelum kita lahir, bahkan mungkin sebelum bapak kita lahir," begitu lapor Dahlan kepada teknisi mesin kertas PT Adiprima Suraprinta di Gresik, Jawa Timur. Semua data yang ditulisnya tadi dilaporkan lewat telepon genggam selama beberapa menit.
"Wah, yang punya handphone ini bakal kena tagihan besar," kata Dahlan sambil memencet nomor lain lagi. Kali ini ia menghubungi perwakilan Jawa Pos di Jakarta dan minta segera mencari pemilik pabrik itu, lalu membuatkan janji untuk pembicaraan bisnis.
"Kalau bisa malam ini juga, atau besok pagi juga bisa," perintah Dahlan kepada anak buahnya di Jakarta. Tak sampai 10 menit, sudah ada jawaban dari Jakarta bahwa pemilik pabrik kertas itu bersedia ketemu Dahlan besok siang di sebuah hotel megah di Senayan, tempat Dahlan biasa menginap kalau ke Jakarta.
Merasa kunjungan ke Kalimantan Barat itu tercapai, selanjutnya Dahlan mencari sasaran lain. Siang itu baru sekitar pukul 11.00. Setelah melihat di koran Pontianak Post bahwa siang itu, pukul 13.00, ada penerbangan ke Balikpapan, Dahlan kembali memakai telepon genggam Sukarti untuk bicara dengan kepala perwakilan Jawa Pos di Kalimantan Timur.
Ia menanyakan cuaca di Balikpapan. Mendapat jawaban cuaca buruk, Dahlan membatalkan niatnya ke sana, karena penerbangan dari Pontianak-Balikpapan menggunakan pesawat berbaling-baling dua. "Saya memang begini. Pergi ke sana kemari, sering tanpa perencanaan. Bahkan kadang-kadang saya jalan saja ke airport. Di sana baru ambil keputusan mau ke mana," katanya. Saking banyaknya perusahaan Jawa Pos yang perlu dikunjungi, dan Dahlan agaknya suka membuat kunjungan in cognito alias sidik dadakan, terkadang sudah beli tiket, dibatalkan jika ada urusan yang dirasa lebih penting.
Batal ke Balikpapan, Dahlan memutuskan tidur dulu di Pontianak. "Semalam saya nonton bola (di televisi) hingga pukul 3.00," kata Dahlan. Saya maklum, kalau Dahlan gemar nonton sepak bola, sebab ia juga menjabat wakil ketua klub sepak bola Persebaya Surabaya. Oleh Sukarti, Dahlan diinapkan di sebuah kamar suite hotel berbintang tiga yang letaknya sekitar 500 meter dari kantor PT Akcaya Utama Press. "Sekarang pukul setengah satu. Kita ketemu lagi untuk makan siang pukul 2.00, ya," begitu instruksi Dahlan.
"Ya, bos," ujar Untung Sukarti sambil mengangguk.
Begitulah Dahlan Iskan, pengusaha besar yang mengelola banyak perusahaan. Siang bisa jadi waktu tidur, malam waktu begadang. Setelah tidur satu setengah jam, Dahlan mengadakan pertemuan dengan direksi dan beberapa manajer kelompok Akcaya mulai dari waktu makan siang sampai pukul sepuluh malam. Selanjutnya, ia melakukan pembicaraan-pembicaraan telepon ke Jawa Pos serta anak-anak perusahaan hingga tengah malam, baru pergi tidur ke hotel. Cuma untuk dua jam. Ia minta Sukarti menjemputnya pukul 02.00 dinihari.
Sukarti datang menjemputnya dengan kendaraan distribusi Pontianak Post, sebuah mobil van Daihatsu. Dahlan, dengan pakaian training, ikut manajer pemasaran untuk membawa koran kepada sekitar 12 agen. Koran itu tidak sekadar diturunkan di depan pintu rumah para agen. Dahlan turun dari mobil, mengetok pintu sampai para agen keluar, lalu berbincang-bincang sekitar satu hingga tiga menit. Ia menanyakan keadaan, menasihati, dan mendengarkan keinginan mereka. Usai keliling ke agen-agen, hari sudah subuh. Dahlan mengajak cari minum teh panas di pasar. Setelah membaca koran Pontianak Post, keluarlah celetukannya,
"Koran ini terlalu banyak berita kering. Kurang menonjolkan hal-hal kemanusiaan. Bilang pada redaksinya supaya kurangi wawancara pejabat dan suguhkan lebih banyak liputan masyarakat, bangkitkan penghargaan kota," pesan Dahlan kepada Sukarti. Ia lalu memberi beberapa nasihat kepada manajer pemasaran Pontianak Post Tri Hanjaya. "Kalau kerja di koran, jadi manajer pemasaran jangan pakai dasi," katanya.
Pukul 06.00 kami ke hotel, mengambil tas masing-masing lalu ke bandar udara Pontianak. Dalam mobil Sukarti tercium bau durian.
Dahlan ternyata penggemar berat durian. Karena itu Sukarti membawanya beberapa buah. "Pernah saya ke Singapura hanya untuk pergi makan durian. Itu karena diajak seorang teman, pengusaha di Jakarta," tutur Dahlan. Tiba di bandar udara, kami duduk santai di areal parkir bandara Soepadio, menunggu pesawat yang baru datang pukul 09.00. Dahlan dengan tenang menikmati durian dari Sekadau itu. Sejak kemarin pagi, baru pagi ini saya bisa mengobrol berduaan dengan Dahlan. Kami terbang ke Jakarta dengan pesawat pertama, Pelita Air yang cuma ada kelas ekonomi.
Tiket kelas bisnis Garuda yang sudah disediakan dari Jakarta, tidak jadi dipakainya karena terbang lebih siang, sedangkan ia mengejar janji pertemuan bisnis dengan pemilik pabrik kertas yang ditinjaunya di Pontianak. Tiba di Jakarta, Dahlan dengan pakaian yang semalam, sepasang training, pergi ke hotel bintang lima di Senayan untuk melakukan pembicaraan bisnis bersama pemilik pabrik kertas. Sementara saya langsung ke ruang tunggu Garuda. Kami sepakat naik Garuda ke Surabaya pukul 14.00. Dahlan ternyata bisa kembali dalam tempo satu jam setengah.
Ketika saya sudah dalam pesawat, lima menit sebelum terbang, Dahlan baru muncul. Pengalaman mendampingi Dahlan ternyata tidak mudah. Di Surabaya juga sulit mencarinya. Bos Jawa Pos ini ternyata tidak punya ruang kantor dan kursi di Graha Pena yang tinggi menjulang bagaikan gedung perkantoran menteri-menteri di Jakarta. Ia bahkan tak punya nomor telepon khusus. Dari waktu ke waktu ia yang menelepon staf sekretariat untuk melaporkan posisinya. (nur)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar