|
Anti Lock Brake System atau ABS sudah dikenal di Indonesia sejak
tahun 1990-an. Jika dulu sistem ini hanya digunakan oleh mobil-mobil
premium, belakangan ini sudah hampir semua mobil kelas menengah
menerapkan sistim ini. Sayang banyak pemilik mobil yang menganggap bahwa
mobil yang telah dilengkapi ABS memiliki jarak pengereman lebih dekat,
sehingga pengemudi terlena dan enggan menginjak pedal rem lebih keras.
Selain itu, getaran di pedal rem saat ABS bekerja kerap membuat kaget
sehingga pengemudi langsung mengangkat kaki dari pedal rem. Hal ini
jelas berbahaya, karena rem menjadi tidak bekerja sama sekali. Pertama-tama kita harus tahu prinsip kerja ABS. Teknologi ini bekerja berdasarkan kemampuan traksi ban. Saat pengereman darurat, sensor di roda mendeteksi sesaat ban mulai terkunci. Kemudian secara otomatis, komputer memerintahkan piston di kaliper rem untuk melepaskan tekanannya agar ban berputar. Sesaat setelah melepas tekanan, rem bekerja kembali. Proses ini berlangsung sangat cepat dan hal inilah yang membuat getaran di pedal rem. ABS tidak memperpendek jarak pengereman, namun membuat mobil tetap dapat dikendalikan saat pengereman keras, karena ban masih memperoleh traksi, sehingga pengemudi dapat mengarahkan kendaraan ke posisi aman. Rem dengan ABS tidak efektif saat di jalan tanah atau gravel. Kerikil akan membuat sensor ABS mendeteksi ban tidak mendapat traksi sehingga piston di kaliper akan melepas tekanan lebih cepat. |
Masjid Al-Hilal Katangka
MASJID ini bernama Masjid Al-Hilal, satu dari sekian banyak jejak
penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah
Kesultanan Gowa. Kendati telah berusia empat abad, masjid ini masih
kokoh berdiri. Masjid Al Hilal terletak di Jl Syeh Yusuf,
Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia. Jarak lokasi
sekitar 10 kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar (Lapangan
Karebosi).
Masjid Al Hilal lebih dikenal dengan nama Masjid
Katangka karena lokasinya yang berada di Katangka. Hilal (dalam
sistem lunar penanggalan Arab) berarti bulan muda di ufuk timur yang
menandai datangnya hari baru. Masjid Al Hilal berarti masjid yang
menengarai datangnya masa baru. Luasnya 174,24 meter persegi.
Pada zamannya, masjid ini termasuk besar, mewah, dan dianggap penting
karena konstruksinya terbuat dari batu bata. Hanya bangunan penting
yang dibuat dari batu bata saat itu, seperti istana dan benteng.
Fungsi
utamanya tentu sebagai tempat ibadah. Setiap datang waktu salat,
masjid ini ramai dipenuhi jamaah. Ada beberapa makam di
halaman masjid. Itu adalah makam para pemuka agama dan kerabat
pendiri masjid. Khusus makam para pendiri masjid memiliki atap di
atasnya berbentuk kubah. Salah satu yang mencirikan masjid ini
merupakan bangunan kuno adalah dindingnya. Dinding yang terbuat dari
batu bata itu cukup tebal, mencapai 120 sentimeter (cm). Ada
perpaduan unik dari dua kebudayaan pada masjid ini, arsitekturnya
memperlihatkan nuansa Jawa dan Cina.
Struktur atapnya mirip
bangunan joglo. Memiliki empat tiang penyangga yang dalam arsitektur
Jawa disebut soko guru. Hanya saja terbuat dari susunan batu, bukan
kayu. Terdapat dua lapis atap. Atap bagian atas berbentuk segi tiga
piramida dengan bahan dari genting. Masjid ini juga memiliki serambi
sebagaimana umumnya masjid di Jawa. Pengaruh kebudayaan Cina
terlihat pada atap mimbar yang mirip bentuk atap klenteng. Di sekitar
mimbar juga masih terpasang keramik dari Cina yang konon dibawa oleh
salah satu arsiteknya yang berasal dari sana.
Masjid Al Hilal
Katangka mudah diakses, dengan angkutan kota, taksi, maupun
fasilitas pengantaran hotel. Jika menggunakan angkutan kota, naik dari
Lapangan Karebosi jurusan Sungguminasa. Turun di batas kota
Makassar-Gowa, lalu sambung angkutan kota ke arah Jl Syeh Yusuf. (nur)